Sunday, December 23, 2012

Libur

gerimis dan banjir
mengusik mimpi dan istirah
jalan-jalan padat dengan air
menusuk langsung jantung berdarah

terkadang aku mengundang angin
tuk menemaniku menulis
di pematang pekuburan penuh asin
airmata pahit sejumput nasib

jangan ...
jangan mencuri waktuku dengan kopi
sebungkus roti
sebilah belati

hari ini lebih menarik jika
terlentang menatap langit jingga
dan matahari terbit tanpa mata
lalu terbenam melewati senja

libur dari perjalanan
istirah saja
lelah diredamkan tanah dan sungai
bersama pejam mataku

cinta ...

Thursday, December 20, 2012

Ngantuk

beratnya mataku
dan jari jari berlarian sepanjang waktu
entah sengaja menderu
jejak angin yang lambat di perahu
atau cahaya matahari senja yang menggantung di awan kelabu

air
yang mengalir dari langit
air matakah
air
yang tumpah di sajadah
hujan semalamkah?

tak ada kabut pagi di selatan langit
batas tumbuh yang patah diterabas waktu

jangan muram di saat ini
dengan mata terpejamku
aku ingin menuliskan suara yang jelas
menghentak-hentak telinga kupu kupu

ooh. mataku terpejam
ngantuk
dan nafas satu demi satu
tak mengerti arah
diri yang tak tahu kemana hendak melangkah

karena bodoh
mengartikan sampah sebagai sumpah serapah
padahal mimpi masih jauh
masih jauh dari subuh



Wednesday, June 13, 2012

Istirahat #1

inilah waktunya mengatupkan mata
berhenti bersama waktu yang tmenggerus usia
istirahat dari lalu lalangnya cerita
saat ini saja

engkau kembali terlalu cepat, cinta
saat aku belum sepenuhnya pulih
dari luka perang dan kejatuhan
dan tetap saja senyummu alangkah panasnya

bagaimana aku bisa bertahan menghadapi
waktu gelap yang terus memutari
kepalaku terantuk seribu tawon api
berdesingan keluar masuk hati

senyummu memaksaku duduk kembali
di pelataran hening sepi
hanya duduk saja sekian hari
berfikir-fikir terus dan memantapkan nyali

hai hai hai....
kemana burung-burung yang hinggap di sepucuk daun
beterbangan ketika musim padi menguning
dan bunga-bunga bermekaran seperti bunting

aku sedang berbaring rata dengan tanah
berdiam saja dibiarkan sejarah

menjadi kaku
menjadi batu

Saturday, June 9, 2012

Cinta #20

berdebat tentang cinta
entah mengapa tak ada catatannya

engkau memandang jauh
tatkala cinta itu jatuh
seperti cinta adalah bola mata
engkau memilih buta
memandang tanpa mata
melihat hanya gelap saja

engkau menjadikan cinta sepasang kaki
yang membawamu berjalan jauh
membawa kekasih ke tanah lapang
untuk membangun bahtera nuh
lalu engkau menunggu hujan turun dari langit
menggenangi dunia tanpa ruh
dan jikalau tiada hujan
engkaupun memeluk cinta
menghangatkan harapan

engkau menjadikan cinta sepasang tangan
dengannya engkau memahat perapian
dari sebongkah batu dari dasar kebencian
lalu karena maaf sudah mengalir jatuh dari tebing
sebagaimana aliran air menuju batu-batu di bawahnya
cinta menciduk aliran air itu
dan menyebarkannya dalam bentuk kabut air
lalu seperti menunggu cahaya

engkau menjadikan cinta pengganti bagian dirimu
padahal ia ada untuk menjadi pakaian
menjadi sepasang kasut untuk kaki telanjang
menjadi topi dan naungan untuk menahan panasnya perkelahian
menjadi kendaraan untuk mengantarkan hati
menuju suatu tempat di atas awan

sahabat ...
jika engkau merasa jatuh
ke dalam danau penuh cinta
gerakkan dirimu menuju dasar cinta
yaitu kemurnian mutiara di mata airnya

jika engkau memilih udara penuh petir
dan mencabik-cabik daun dengan asam dari panasnya angkara
itulah yang kaupahami tentang cinta

Wednesday, June 6, 2012

Persinggungan Bunga

apakah yang menghalangi barat dari api
bumi dan tanah terbakar hitam
kaki tangan merangkak di sepanjang jalan
hanya untuk memutih tulang dan terbenam

ia - matahari kuning kemerahan yang menjaga senja
sehabis berlarian dari ujung timur hingga ujung barat
memutari dunia dan menjadi saksi peristiwa
hanya pada peraduan dan gulita - ia menutup mata

apakah yang menghalangi malam dari gemuruh
geram dan serbuan mendatangi cahaya rumah
setiap mata memandang nyalang sinar
gerak batinnya dikendalikan kegelapan

ia - rembulan di balik gedung tinggi
yang menarik awan pergi
menjauh dari jiwa terkapar
di lambaian tanah kelahiran

lalu bunga menjatuhkan embun dan daun kering
di pagi yang dibentangkan
hanya untuk mencintai sinar

apakah yang paling angkuh di waktu subuh
adalah bunyi jangkrik yang terus berdengung
sementara langit membuka tabir malam
dan kepala yang tunduk
menggenggam bunga dalam ikatan
padahal hatiku hanya satu
dan kujaga dengan benar
lalu jiwaku dipaksa patuh
kepada lagu gaduh
yaitu wajahmu
yang terlanjur jatuh di sekumpulan bunga
di persimpangan

Tuesday, June 5, 2012

Seribu peluru

aku menceritakan padamu seribu peluru
runcing dan tumpul
pecah atau menembus
semuanya terpantul
di kekacauan sejarah

hanya mencari-carimu
di depan waktu
kata-kata yang terdengar
meletuskan gema di jiwa

lalu hatiku terbakar
lubang mengalirkan darah kental
ada seribu peluru
menerjang bersamaan

adakah kematian begitu sakit
ataukah kehidupan lebih sakit
sebab dan akibat
adalah palu yang pukulannya terlambat

engkau membuang senapan
lalu dipungut oleh seorang gelandangan
yang menceritakan padaku
tentang seribu peluru
yang menetap di hatinya - tersarang

lalu hatinya terbakar sembilu
dan lilin-lilin leleh karena api biru

dan ia melangkah dengan berat
menggenggam senapan penuh darah
hanya untuk mengumpulkan seribu peluru
dan memasukkannya ke magazin waktu

entah..
adakah kebodohan ataukah memang sepantasnya ia
menerka setiap tikungan dan bertanya kepada kawan
di manakah peluru yang tersebar?
adakah di kepalamu peluru yang mematikan pecundang?
sebagian menjadi budak waktu
sebagian menjadi tuan waktu

entah..
hatiku dan hatinya terbakar
luluh seperti ribuan lilin meleleh dalam api

seribu peluru
seolah berdesingan ...
kepadamu

Menonton kematian

berkacalah kepada kematian
ia bercanda dengan cerita-cerita lucu
seperti kematian rubah karena terpeleset di tebing
atau kepada seribu cara kematian paling aneh yang sudah difilmkan.

ia tidaklah tampak
bersahabatpun tidak
kalaulah ia bergerak
pada saat itupun kau telah terserak

lalu engkau menatap cerita kematian di depanmu
alangkah menyedihkannya
seribu manusia yang berguguran bagai embun jatuh
jutaan yang mengisi kembali amunisi kebenciannya
mengokangnya dan menembakkan ke kepala anak dan istrinya

aku tak bisa mengatakan kematian mencintaimu
atau membencimu
ia hanya lalu lalang saja meniup seutas nyawa yang rapuh
hanya menunggu ajal menjemput
lalu kembali kepada tanah yang lembut

berkacalah kepada kematian
ia yang memaksamu mencium tanah
ketika orang-orang memaksamu rebah
dalam pelukan papan-papan
yang dipadatkan dengan tanah basah penuh tatapan

semuanya menatapmu dengan tanya
bagaimana kematian berbicara kepadamu
apakah dialog terjadi sesaat sebelum putus
ataukah sesudah putus dalam hening yang menyakitkan
detik-detik ribuan biri-biri disembelih bersamaan
dan dikuliti dengan mata menatap awan
tapi hanya engkau yang bisa menceritakan
kepada hening yang memabukkan
bagaimana kematian datang dan matamu melihatnya
dengan debaran jantung yang berlarian

sebelum berhenti
tepat saat jarum panjang
berdentang...



sederhana

mencintai itu sederhana
mudah dilakukan dalam setiap esensinya
yaitu dalam bait yang berlari
pada sajak-sajak sulit
atau pada butiran bundar
di setiap tinta yang ditulis

hanya perlu membentangkan kertas itu
di delapan penjuru
arah mata angin yang membawaku
ke hatimu

dalam doa

dalam doa aku menyebutkan ribuan keinginan
yaitu pilihan takdir dan kenyataan
supaya aku kelak berakhir
dalam selimut cinta tiada akhir

aku tidak ingin mati sendirian
meskipun itulah yang terjadi
antara tidak inginku dan doa
sudah kuikat dengan jalinan harap

dalam doa aku berlindung dari ketakutan
dari bunyi kutukan bunyi makian
akulah sang penabuh genderang
yang mencoba mempermainkan kesunyian

aku tidak ingin berdiri sendiri
di tengah padang ilalang penuh pedang
yaitu pisau-pisau keputusan
yang beterbangan seperti burung
ketika aku memutuskan bahwa ...
adalah hidup yang akan menemukan jalan

dalam doa aku terpekur
bersandar pada tiang-tiang, tulang-tulang
hasta demi hasta
jari dan tangan yang seirama
jari dan kaki yang bersama-sama
hingga akhirnya

aku tidak ingin ..
sungguh tidak ingin
menjadi angin yang berhembus di padang gurun
menjadi badai yang melumatkan umat serumpun
menjadi cinta yang jatuh di tempat yang salah
menjadi ilalang yang sedang terbakar musnah

dalam doa
aku bicara padaMu
mengaduh padaMu
tunduk tersungkur kepadaMu
dan bersedia
menaruh jiwa di atas nampan persembahan
hanya agar bisa mengerti
arti duka arti suka
di dunia





Friday, June 1, 2012

Karena Ibu

Selamat pagi ibu, salam padamu dariku
kita memang tak pernah lagi bertemu
tapi aku merindukanmu, selalu
bagaimana ibu menjalani waktu menunggu?
aku berdoa untuk kebahagiaan ibu
selalu ibu
aku berdoa untukmu

ibu apakah bisa mendengarku?
apakah suara doa dalam batin yang kupanjatkan
bisa menembus hingga ke dunia itu?
aku memanjatkannya dengan kepasrahan
semoga doa itu bisa melesat kepada Tuhan

ibu apakah bisa melihatku?
ketika pagi buta aku bangun terburu-buru
mengejar langkah tak jauh
agar tak terlambat ditinggalkan jamaah subuh

jika dahulu ibu menjewer kesiangan tidurku
memercikkan air di muka kemalasanku
lalu tahun demi tahun berlalu
rasa air itulah yang membangunkanku
bukannya dingin pagi
atau panasnya hati ketika jiwaku berapi
tapi karena pesanmu sudah sampai
kukuh terpahat bersama matahari pagi

salam cinta ibu, aku ingin mencium tangan kenanganmu
karena kita terpisah sangat jauh
raga yang musnah biarlah menyatu dengan tanah
tapi cintamu akan terikat dalam rumah
tempat aku menaruh hatiku ketika lemah

sampai kini ketika sunyi mengurung hati
aku selalu teringat tanganmu mengusap pipi
dan pelukanmu yang menenteramkan
karena engkau mencintai
karena engkau menyayangi

hai ibu, aku selalu memintamu berdoa
untuk langkahku tersandung bala
untuk kesusahanku terkandung bahaya
lalu waktu memutihkan rambutmu
lalu waktu memutihkan rambutku
barulah aku paham cepatnya cinta terputus raga
barulah aku paham perpisahan itu sangat dekat saatnya

tapi ibu, karena engkaulah aku bisa berjalan jauh
ketika dahulu dalam lindungan sayapmu aku terjatuh 
untuk mengikuti arus pengaruh dunia

lalu engkau memegangku dengan kata-kata
lalu engkau menjagaku dengan kata-kata
hingga kini
semakin terasa benarnya

ah ibu.
apalagi yang bisa kutuliskan untukmu?





Friday, May 4, 2012

Cinta ....

Hai ..
aku menyapamu dengan senyum di pagi ini
ketika geliatmu masih teramat letih
aku ingin membuka jendela
tapi kita tidak memiliki matahari di sana
jadilah kita membuka pintu
menuju taman yang teduh
di bawah bayangan awan yang bergerak pelahan
sambil membentuk gambar-gambar

Hai ...
aku menyukai senyum
terutama jika senyum itu bermakna cinta
sepasang bibir yang bergerak
dan gigi yang mengintip malu-malu

aku menyukai rasa senyum
terutama jika senyum itu terjadi di pagi hari
saat matamu mencari cintaku
ketika engkau terbangun
dan tidak menemukanku

Hai ...
temukan aku di balik debur
gerakan otot otot halus jantung
atau suara lirih aliran darah
yang semuanya meneriakkan namamu
sepanjang perjalanannya meliputi tubuh

hingga ke hatiku.

Jejak Dalam Puisi

Kepadamulah aku serahkan cinta
Ya hanya kepadamu
Lalu aku menoleh ke jejak perjalanan kita
Ya perjalanan cinta padamu

Aku memulai sajak cinta dengan kata kamu
Ya, kamulah yang telah memberikan warna di sepanjang jalan
Lalu aku membawamu ke langit biru
Ya, langit yang kita toreh  dengan harapan dan angan
Sepanjang cakrawalanya

Jejak yang telah terukir
Bukanlah jejakku, jejakmu
Ia jejak sejarah cinta
Cinta yang naik , Cinta yang turun
Cinta yang mencari makna

Senyummu tergambar di jejak
Waktupun berlalu
Matamu tergambar di jejak
Waktupun berlalu
Tanganmu terayun di jejak
Waktupun berlalu

Ya, lalu kita berjalan beriringan menuju ujung dunia
Berpegangan tangan merangkapkan cinta
Ya, cinta yang terjatuh di persimpangan jiwa
Lalu engkau memilih bersamaku
Menikmati umur yang menua
Sedangkan aku memilih bersamamu
Menjagamu ketika engkau ingin dijaga

Sembari berjalan, aku menoleh ke belakang.
Ke arah sejarah kita tentang cinta
Dan aku bahagia
Kita telah menuliskan jejak bersama.


Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise